The Story of KKN

by - Agustus 07, 2010

Apa yang terbayang di benakmu ketika mendengar istilah KKN alias Kuliah Kerja Nyata? Mungkin sebagian besar dari kita akan langsung terbayang ‘hidup di desa’. Yah memang begitulah adanya. KKN mengharuskan kita untuk tinggal di desa yang kondisinya otomatis berbeda dengan tempat tinggal kita biasanya.
Tidak terasa sudah waktunya saya mengikuti KKN yang diadakan universitas. Berawal dari ketidaksengajaan, saya mendaftar KKN di Desa Kertayasa, Kabupaten Ciamis. Meskipun awalnya tidak sengaja, saya bersyukur bisa tinggal di Desa Kertayasa ini selama sebulan. Banyak pengalaman berharga yang didapat selama tinggal di desa ini.
Mungkin sebagian besar orang mengalami hal ini, perasaan khawatir tentang apa yang bakal kita hadapi di desa nanti. Begitupun yang terjadi pada saya. Sebelum berangkat, saya bertanya-tanya tentang hal tersebut. Maklumlah, kita kan bakal tinggal jauh dari rumah gitu lho. Akhirnya dengan hati pasrah, saya pun berangkat KKN pada awal Juli lalu. Peserta KKN diharuskan berkumpul di kampus Jatinangor jam 6 pagi. So, berbekal barang bawaan seperlunya plus uang tunai tentunya, saya berangkat dari rumah jam 5 pagi. Sampai di Jatinangor, pemandangan yang terlihat adalah orang-orang yang berlalu lalang dengan macam-macam barang bawaannya. Mahasiswa biasanya barang bawaannya relatif simpel, tidak terlalu banyak. Kalau mahasiswi...yah namanya juga cewek, pastinya barang yang dibawa lebih heboh lah ^_^. Setelah menunggu sejenak, saya pun mencari bus yang akan mengantar kami ke lokasi KKN. Satu bus diisi oleh 2 kelompok. Kelompok Kertayasa bergabung dengan kelompok Batukaras di bus yang sama. Bus pun berangkat sekitar pukul setengah 8. Hmm...kayaknya kalau tadi saya tidak berangkat jam 5 dari rumah juga ga bakalan ditinggal yah..^_^. DPL atau Dosen Pembimbing Lapangan kami menyampaikan sebuah kabar bahwa bus tersebut hanya akan mengantar sampai ke Desa Batukaras. Kelompok Kertayasa tidak diantar sampai lokasi karena kondisi jalan desa yang tidak memungkinkan. Jadi, bagaimana kami sampai di Kertayasa? Sabar..sabar.. nanti juga kau tahu.
Perjalanan kami ditemani dengan iringan musik dangdut (entah siapa DJ bus ini), satu kotak snack, dan permainan gitar dari peserta KKN yang niat banget bawa gitar. Setelah menempuh sekitar 7-8 jam perjalanan, kami tiba di desa Batukaras. Desa Batukaras ini sebagian penduduknya berprofesi sebagai petani dan sebagian lagi nelayan, karena desa ini terletak dekat dengan pantai. Otomatis Batukaras merupakan daerah pariwisata yang banyak dikunjungi turis lokal maupun turis asing a.k.a bule. Pemondokan KKN Batukaras terletak cukup dekat dengan pantai. Dan karena tidak diantar ke Kertayasa, saya dan teman-teman sekelompok terdampar di pemondokan tersebut sambil menunggu kendaraan yang akan mengangkut kami. Kendaraan tersebut tak lain tak bukan adalah mobil colt buntung atau biasa disebut colt bak. Ternyata, pemilik pemondokan sangat baik. Mereka sudah menyiapkan makanan buat peserta KKN. Bahkan kami yang KKN di Kertayasa juga dipersilahkan makan (oh terimakasih bapak ibu). Kami pun mengambil nasi dan mie goreng hanya sedikit, bukan karena jaim alias jaga image, tapi karena merasa ga enak kalau-kalau kami mengambil jatahnya anak KKN Batukaras ^_^. Meskipun menunya sederhana, tapi rasanya seperti makanan hotel bintang lima (haha lebay..makan di hotel bintang lima aja saya belum pernah kok). Maksudnya terasa lezat sekali gitu lho, mungkin karena dari tadi pagi belum makan nasi juga, he2. Sekali lagi terimakasih bapak ibu yang telah mengizinkan kami makan.
Setelah menunggu beberapa lama, 2 mobil colt buntung yang akan mengantar kami tiba juga. Kami beserta barang bawaan pun diangkut ke Kertayasa. Meskipun secara geografis terletak bersebelahan, perjalanan dari Batukaras ke Kertayasa ternyata jauh juga lho, makan waktu sekitar setengah jam kalo ga salah mah. Struktur jalan di Kertayasa ternyata agak berbeda dengan jalan di Batukaras yang rata. Di sini banyak turunan dan tanjakan plus bebatuan. So, melewati jalan seperti ini, perjalanan naik colt bak pun memiliki sensasi tersendiri ^_^. Desa ini memiliki pemandangan yang bagus lho, banyak sawah dan pepohonan hijau, terutama pohon kelapa. Pemandangan yang sulit ditemui di kota besar sekarang ini. Setelah perjalanan yang diiringi angin sejuk dan pemandangan hijau tadi, kami tiba di pemondokan dan disambut oleh pemilik rumah. Rumah dipisah untuk laki-laki dan perempuan.
Nah, begitulah hari pertama saya KKN. Hari-hari selanjutnya diisi dengan berbagai hal, dari mulai yang seru, lucu, bosan, mengharukan, dan kadang menegangkan, ^_^.

You May Also Like

0 komentar